Langsung ke konten utama

KONVERSI, MODIFIKASI INTERNAL, DAN SUPLESI




NAMA            : SYIFA LAILATUL M
KELAS           : BAHTRA 2015 A
NIM                : 156068
KONVERSI, MODIFIKASI INTERNAL, DAN SUPLESI
a.      Konversi
Berdasarkan Abdul Chaer (2008: 235-247) Konversi merupakan proses pembentukan kata dari sebuah dasar berkategori tertentu menjadi dasar berkategori lain tanpa mengubah bentuk fisik dari dasar itu.
Contoh:
Petani membawa cangkul ke sawah. (kalimat pertama)
Cangkul dulu tanah itu, baru ditanami. (kalimat kedua)
Kalimat pertama merupakan kalimat yang bermodus deklaratif berkategori nomina, sedangkan pada kalimat kedua merupakan kalimat imperative berkategori verba. Masalah kita sekarang mengapa hal ini  bisa terjadi, sebuah nomina tanpa perubahan fisik menjadi sebuah verba, walaupun dalam modus kalimat yang berbeda. Penyebabnya adalah kata cangkul dan sejumlah kata lainnya memiliki komponen makna (+ bendaan) juga memiliki komponen makna (+ alat) dan (+ tindakan). Komponen makna (+ tindakan) inilah yang menyebabkan kata cangkul itu dalam kalimat imperative menjadi berkategori verba.
b.     Akronomisasi
Akronimisasi adalah proses pembentukan kata dengan cara menyingkat sebuah konsep yang direalisasikan dalam sebuah konstruksi lebih dari sebuah kata. Proses ini menghasilkan sebuah kata baru yang disebut dengan akronimisasi.
Terdapat beberapa aturan dalam pembentukan akronim yaitu yang mengambil huruf-huruf (fonem-fonem).
1.     Pertama dari kata-kata pembentukan konsep tersebut. Contoh:
IKIP : Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
IDI : Ikatan Dokter Indonesia
2.     Pengambilan suku kata pertama dari semua kata yang membentuk konsep tersebut. Contoh:
Puskesmas: pusat kesehatan masyarakat
Rukan: rumah kantor
3.     Pengembilan suku kata pertama ditambah dengan huruf pertama dari suku kata kedua dari setiap kata yang membentuk konsep. Contoh:
Warteg: warung tegal
Sulsel: Sulawesi selatan
4.     Pengambilan suku kata yang dominan dari setiap kata yang mewadahi konsep itu. Contoh:
Tilang: bukti pelanggaran
Danton: komandan peleton
5.     Pengambilan suku kata tertentu disertai dengan modifikasi yang tampaknya tidak beraturan namun masih dengan memperhatikan keindahan bunyi. Contoh:
Pilkada: pemilihan kepala daerah
Bulog: badan urusan logistic
6.     Pengambilan unsur-unsur kata yang mewadahi konsep itu tetapi sukar disebutkan keteraturannya termasuk seni. Contoh:
Sinetron: sinema elektronik
Satpam: satuan pengamanan
c.      Penyerapan
Penyerapan adalah proses pengambilan kosakata dari bahasa asing. Bahasa asing yang dimaksud adalah bahasa asing Eropa (bahasa Inggris, Belanda), bahasa asing Asia (bahasa Arab) dan sebagainya.
Penyerapan kata-kata asing harus dilakukan secara visual. Artinya berdasarkan apa yang dilihat di dalam tulisan. Inti dari pedoman pembentukan istilah adalah:
1.     Kata-kata yang sudah terserap dan lazim digunakan sebelum buku pedoman ini terbit, tidak perlu lagi diubah ejaannya. Misalnya kata kabar, sirsak, telepon, iklan, perlu, bengkel, hadir, dan badan.
2.     Penyerapan dilakukan secara utuh. Misalnya standardisasi, objektifitas.
3.     Huruf-huruf asing pada awal kata harus disesuaikan. Misalnya penulisan huruf “c” yang berada dimuka huruf e, l, eo, dan y maka menjadi huruf s.
4.     Penulisan pada akhir kata harus disesuaikan. Misalnya penulisan pada huruf yang berakhiran –(a)tion, -(a)tie maka menjadi –asi, -si. Contoh:
Action menjadi aksi
Publication menjadi piblikasi.
Catatan:
1.     Penyerapan dari bahasa asing yang tidak menggunakan aksara Latin seperti bahasa Arab, Rusia, Cina tentu harus ditransliterasi atau ditranskripsi dulu ke dalam huruf Latin.
2.     Penyerapan dari bahasa-bahasa Nusantara harus disesuaikan dengan ejaan dan lafal bahasa Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klasifikasi morfem dan Morfem dasar, pangkal, dan akar

NAMA             : SYIFA LAILATUL M KELAS            : BAHTRA 2015 A NIM                 :156068   1.      Klasifikasi morfem Dalam kajian morfologi biasanya dibedakan dengan beberapa morfem berdasarkan kriteria tertentu, antara lain: a.       Morfem bebas dan terikat Morfem ini dibedakan berdasarkan kebebasannya untuk dapat digunakan langsung dalam pertuturan. Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri yaitu bisa terdapat sebagai suatu kata . Contoh morfem {makan}, {satu}. Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang tidak terdapat sebagai kata tetapi selalu dirangkaikan dengan satu atau lebih morfem yang lain menjadi satu kata. Contoh {bersatu}. (Verhaar: 1992, 52-53) Morfem bebas dapat digunakan langsung da...

Analisis Wacana Berdasarkan Pendapat Van Djik

ANALISIS WACANA BERDASARKAN PENDAPAT VAN DJIK Oleh: Syifa Lailatul Maghfiroh/156068/PBSI 2015-A                         Setelah memahami pengertian wacana, prasyarat wacana, kohesi dan koherensi serta jenis-janis wacana. Sebuah wacana juga dapat dianalisis salah satunya berdasarkan teori atau pendapat Van Djik. Banyak ahli yang memberikan pandangan tenang wacana, salah satunya adalah Van D ji k. Van D ji k membuat sebuah telaah mengenai analisis wacana yang mana didalamnya terbagi menjadi beberapa bagian.                         Analisis wacana model Van Djik adalah model yang sering dipakai. Van Dijk memanfaatkan dan mengambil analisis linguistik tentang kosakata, kalimat, proposisi, dan paragraf untuk menjelaskan dan memaknai suatu teks. Kognisi so...